Fakta, dan fiksi sebagai Kesusastraan (Resume KBMN30PGRI pertemuan ke-10)

 

Materi            : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber    : Sudomo, S.Pt.

Moderator        : Ahmad Sholeh, S.Pd. Gr.


Pemateri malam ini adalah seorang yang hebat dalam dunia tulis menulis fiksi. Beliau juara 1 lomba blog PGRI tingkat nasional dan sering menjuarai lomba literasi di NTB. Saat ini beliau sebagai Duta teknologi NTB 2023.

Diawal pertemuan Narasumber beranalogi dengan sebuah gelas yang berisi air yang kita bawa masing-masing, air tersebut diibaratkan materi malam ini dan dengan adanya pertemuan ini diharapkan dapat sharing dan saling mengisi.

Kemudian melalui Moderator, Narasumber mengajukan sebuah pertanyaan: 

Pertanyaan 1

Apa yang memotivasi Bapak/Ibu untuk belajar menulis cerita fiksi? Penulis menjawab: Penulis ingin kompeten dalam membuat sebuah cerita fiksi.

Pertanyaan 2

Ceritakan pengalaman Bapak/Ibu dalam menulis cerita fiksi Jawab Penulis: Lebih sulit dari menulis non fiksi karena cerita fiksi harus mengarang, sedangkan non fiksi menulis apa adanya. bahkan hanya menceritakan kronologis sebuah kejadian.

Dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya jawab secara spontan rasanya pertemuan ini menjadi sangat komunikatif... :)

Beragam jawaban dari para peserta. Dalam hal ini saya hanya menuliskan apa yang saya tanyakan.

Selanjutnya Narasumber menyampaikan bahwa sebelum membahas tipsnya kita perlu menyamakan persepsi tentang syarat menulis sebuah fiksi sebagai berikut :

1. Komitmen dan niat yang kuat;

2. Kemauan dan kemampuan melakukan riset; 

3. Banyak membaca cerita fiksi;

4. Mempelajari KBBI dan PUEBI;

5. Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi; dan

6. Siap menjaga konsistensi menulis cerita fiksi.

Syarat diatas wajib dimiliki untuk menghasilkan fiksi yang menarik.

Terkait dasar-dasar menulis cerita fiksi, salah satunya adalah mengenal unsur pembangun cerita, yaitu tema, premis, latar/setting, penokohan, alur/plot, dan sudut pandang.

Terkait dasar-dasar ini narasumber hanya mengutif masalah premis, karena menganggap yang lain adalah hal yang sudah umum. "Premis adalah ringkasan cerita fiksi dalam satu kalimat yang terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi."

Contoh premis novel yang cukup terkenal adalah "Seorang penyihir muda yang berusaha membebaskan dunia dari kegelapan dengan melawan penyihir jahat"

Dari satu kalimat itu, penulis bisa mengembangkan menjadi satu cerita utuh. Karena premis merangkum cerita secara keseluruhan.

Dari contoh premis tersebut, bisa kita uraikan menjadi tokoh: penyihir muda, tujuan tokoh: membebaskan dunia, tantangan: penyihir jahat, resolusi: dunia aman dari penyihir jahat.

Setelah menyamakan persepsi, inilah tips mudah menulis sebuah fiksi: 

1. Niat menulis dan komitmen menyelesaikannya;

2. Perbanyak membaca cerita fiksi karya orang lain;

3. Menentukan ide dan tema cerita fiksi;

4. Membuat kerangka/outline;

5. Mulai menulis; dan

6. Melakukan swasunting.

Setelah materi disampaikan dilanjutkan dengan tanya jawab. Ada pertanyaan yang menarik dari sekian pertanyaan yang diajukan yaitu: P11

Assalamualaikum. Malam Pak. Saya Siti Aisyah dari Tegal. Salam Ngapak, ora ngapak ora kepenak. Maaf pak, ijin bertanya bagimana cara kita mengembangkan konflik dalam cerita fiksi agar tetap menarik bagi pembaca?

Jawab: Wa'alaikumsalam, Bu Aisyah.  Pengembangan konflik:

1. Relevan dengan karakter utama;

2. Konflik jangan mudah teratasi, meskipun konfliknya ringan;

3. Konflik berlapis;

4. Membangun suasana dalam konflik tergantung konfliknya seperti apa.


Sesuai komitmen awal pertemuan ini yaitu saling sharing dan berbagi saya berniat mengemukakan sebuah statemen yaitu:   

Seandainya Jurnalisme adalah sebuah suguhan fakta

Dari uraian diatas mengenai "FIKSI," catatan pokoknya adalah: ImajinasiCeritaKarakterEkspresi Penulis, Hiburan, Premis (Tujuan tokoh, Rintangan, Solusi, dan Resolusi/Klimaks.)

Sastra: adalah sebuah bentuk seni yang mengutamakan penggunaan kata-kata dan bahasa untuk menyampaikan makna dan merangsang perasaan, seringkali dengan cara yang indah dan mendalam.

Lalu mengapa penulis mengaitkan Fakta, Fiksi dan Sastra dalam Judul diatas. Jawabnya selama ini penulis hanya fokus pada jurnalisme dan inilah kesempatan berharga untuk penulis buat memulai menulis fiksi.

Kesimpulan: Fiksi adalah genre sastra yang tidak didasarkan pada fakta atau peristiwa nyata. Dalam karya fiksi, penulis menggunakan imajinasi untuk menciptakan karakter, plot, tempat, dan peristiwa yang hanya ada dalam dunia khayalan. Walaupun ada kejadian nyata yang diangkat penulis sebagai fiksi. Untuk memulai semuanya kita membutuhkan sebuah Premis.

Selanjutnya inilah materi Narasumber yang telah divideokan di channel Beliau supaya semuanya bisa lebih jelas:






Komentar

Postingan Populer