Menulis Buku dari Karya Ilmiah Bagaimana Caranya? (Resume KBMN30PGRI Pertemuan ke-24)
Narasumber : Eko Daryono, S.Kom.
Moderator : Bambang Purwanto, S.Kom., Gr.
Materi : Menulis Buku dari Karya Ilmiah
Giliran Mr. Bams Moderator kita hari ini dengan sapaan hangat Beliau membuka pertemuan, sekaligus memperkenalkan Narasumber melalui laman blog https://maseko1275.blogspot.com/2021/11/profil.html
Berikut adalah paparan materinya:
Materi yang saya bawakan malam ini adalah Menulis Buku dari Karya Tulis Ilmiah
Tema yang cenderung teoristis dan bikin pusing mengingat tidak ada standarisasi konversi KTI menjadi buku.
Tema yang cenderung teoristis dan bikin pusing mengingat tidak ada standarisasi konversi KTI menjadi buku.
Terlebih sekarang ada dua model lisensi yakni ISBN dan QRCBN yang tentu saja tuntutan content dalam buku akan berbeda dimana ISBN lebih cenderung ke buku bacaan umum sedangkan QRCBN bisa menyesuaikan dengan isi KTI
Saya rasa Bapak Ibu sudah mendapatkan materi terkait anatomi buku ISBN dan QRCBN dari ahlinya Bunda Kanjeng pada pertemuan ke-23 Rabu kemarin
Sebelum masuk ke ranah konversi, terlebih dahulu perlu dipahami Karya Tulis Ilmiah itu apa dan seperti apa
Definsi Karya tulis ilmiah menurut Perka LIPI No 2 /2014 merupakan tulisan perseorangan atau kelompok dari hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan, ulasan, kajian, dan pemikiran sistematis yang yang memenuhi kaidah ilmiah
KTI dapat dibedakan menjadi dua macam yakni KTI nonbuku dan KTI buku
KTI Nonbuku
KTI bidang akademis untuk mendapatkan gelar -> tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi
KTI hasil penelitian -> PTK, PTS, best practice, makalah, artikel, jurnal
KTI berupa ulasan -> resensi
KTI Buku
Buku Bahan Ajar -> diktat, modul, buku ajar, buku referensi
Buku Pengayaan -> monografi, buku teks, buku pegangan, buku panduan
Buku kompilasi -> bunga rampai, prosiding
Bagi yang ASN guru Karya Tulis Ilmiah yang terdapat dalam buku 4 PKG untuk pengembangan diri yakni
Publikasi Ilmiah Berupa Hasil Penelitian atau Gagasan Ilmiah Bidang Pendidikan Formal -> Laporan PTK/PTS, Best Practice, Tulisan Ilmiah Populer
Publikasi Buku Teks Pelajaran, Buku Pengayaan, dan Buku Pedoman Guru
Karya Inovatif -> Teknologi Tepat Guna, Karya Seni, Membuat/Memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga dan Alat Praktikum
Ternyata tidak semua KTI itu berupa buku. Memang secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi itu berupa buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya adalah laporan hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas.
Anatomi KTI umumnya tersusun atas bab-bab dengan penomoran yang struktural sesuai dengan jenis KTI serta institusinya. Babnya pun bersifat formil
BAGIAN AWAL -> Lembar Pengesahan, Kata Pengantar, Abstraksi, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN -> Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN TEORETIS -> Tinjauan Pustaka, Hasil Penelitian yang Relevan, Kerangka Pemikiran, Hipotesis (jika diperlukan)
BAB III METODE PENELITIAN -> Jenis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian, Subjek Penelitian, Data dan Sumber Data, Teknik Validitas Data, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN -> Hasil Penelitian, Pembahasan, Temuan Hasil Penelitian
BAB V PENUTUP -> Simpulan, Implikasi dan Saran
BAGIAN AKHIR -> Daftar Pustaka, Lampiran, Bionarasi
Nah apa bedanya anatomi KTI di atas dengan buku?
Secara subtansi isi, tidak ada perbedaan isi laporan KTI dengan isi buku hasil konversinya. Karena sejatinya isi buku mencerminkan keseluruhan isi laporan KTI khusus untuk anatomi buku ber-QRCBN karena aturan content yang lebih fleksibel.Untuk anatomi ISBN, anatomi bukunya memang benar-benar berubah dan nyaris tidak nampak lagi isi KTI-nya karena memang harus dikembangkan menjadi buku bacaan
Secara sistematika, tentunya gaya penulisan KTI dengan penulisan buku tentu berbeda. Ada penyesuaian-penyesuaian sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku dengan tujuan agar kesannya tidak kaku. Misalnya penomoran tiap sub bab-sub bab
Secara Bahasa, meski sama-sama ilmiah, hasil konversinya tentu harus dimodifikasi sehingga Bahasa dalam bukunya lebih luwes, bersifat lugas dan tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis
Lantas bagaimanakah cara mengkonversi laporan KTI menjadi buku?
Langkah Pertama adalah memodifikasi judul KTI menjadi judul buku
Judul KTI umumnya mengandung unsur : variabel penelitian, objek penelitian, dan seting penelitian (baik tempat maupun waktu).
Judul buku hasil konversi harus menarik, unik, mudah diingat, dan mencerminkan isi buku. Kemenarikan judul buku sifatnya subjektif.
Contoh judul KTI : UPAYA MENINGKATKAN KETRAMPILAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF KARTU ARISAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI X TAHUN PELAJARAN 2023/2024
Bisa menjadi judul buku : KETRAMPILAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF KARTU ARISAN
Langkah kedua yakni Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan
Itu saya ambil dari buku konversi salah satu peserta KBMN juga yang kebetulan saya menjadi convertornya
Nah, pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah
Nasib bab tergantung pada anatominya, mau di ISBN kan atau di QRCBN kan?
Jika menggunakan anatomi ISBN, maka semua yang berbau istilah penelitian atau hasil penelitian ditiadakan.
Sebagai contoh laporan KTI tentang Aksara Jawa tadi, semua menggunakan kaidah bab seperti saya jelaskan di atas. Namun setelah di ISBN kan menjadi seperti berikut:
Itu saya ambil dari buku konversi salah satu peserta KBMN juga yang kebetulan saya menjadi convertornya
Untuk yang ber-ISBN memang membutuhkan ekstra pikiran dan ekstra waktu
Lalu bagaimana kalu yang penerbitannya ber-QRCBN?
Karena tidak terikat content harus menjadi bahan bacaan umum, maka anatominya lebih fleksibel bisa memanfaatkan 75% isi PTK sedangkan yang 25% memang harus didelete.
Sebagai contoh perbandingan berikut ini
Jika dibuat buku maka anatomi babnya menjadi seperti ini :
Bab III yang berisi metode penelitian biasanya diringkas menjadi satu atau dua paragraph dan dimasukkan pada bab IV di bagian awal sebagai prologMisal ringkasannya : Pembahasan pada bab ini didasarkan pada laporan action research yang dilaksanakan pada kelas VII A semester I tahun pelajaran 2023/2024 dalam mata pelajaran IPS materi Penampakan Alam...dst
Lantas untuk Bab IV nya sejatinya merupakan bagian inti isi buku, sesuai dengan judul buku. Bab IV tidak lagi menggunakan judul Hasil Penelitian dan Pembahasan, namun disesuaikan dengan konteks buku. Sebagai kisi-kisi, judul buku dapat menjadi pilihan sebagai judul Bab IV
Pada buku bab IV dapat dimasukkan tabel, grafik, foto-foto kegiatan maupun hasil penelitian yang menyatu dalam buku
Maksudnya bahwa tabel, grafik, foto-foto kegiatan tidak lagi berada dalam lampiran namun dibuat menyatu dengan buku yang tentunya disesuaikan narasinya.
Lampiran dapat disertakan namun hanyainstrument penelitian atau hasil olah data. Adapun data-data yang menyangkut privacy sebaiknya dibuat kode-kode atau dibuat tabulasi. Lampiran seperti RPP, kisi-kisi soal, soal boleh dilampirkan
Oh ya tadi ada yang terlewat, untuk bagian pendahuluan (bab I) berisi mengenai fenomena sebagaimana isi poin latar belakang dalam naskah laporan aslinya ditambah dengan fenomena kekinian agar pentingnya isi buku dapat ditonjolkan sejak awal sehingga pembaca merasa tertarik untuk membaca keseluruhan isi buku. Boleh dipertahankan judulnya Pendahuluan
Selanjutnya,. apa yang perlu diperhatikan saat mengkonversi buku
Baik yang mau di-ISBN-kan maupun yang di-QRCBN-kan sama kaidahnya
Pertama, laporan hasil penelitian memang benar-benar karya asli dari penulis alias bukan plagiasi baik seluruhnya maupun sebagian.
Kedua, memanfaatkan berbagai gaya selingkung untuk sumber bahan kompilasi atau pendapat dari penulis lain
Ketiga, jeli dalam memilah dan memilih data yang dipublikasikan sehingga buku yang dihasilkan menarik
Keempat, modifikasi bahasa baku. Hindari pemakaian penanda transisi menurut hal itu sesuai dengan pendapat lebih lanjut si A menyatakan berdasarkan hal tersebut
Kelima, hindari pengambilan sumber kutipan kedua atau pendapat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah Lebih valid jika penulis bisa mendapatkan sumber pertama
Keenam, menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku untuk menghindari citra plagiasi
Jika dianalisis secara detail ternyata mengkonversi KTI menjadi buku gampang-gampang susah.
Daripada susah-susah, bolehkah jika laporan KTI apa adanya langsung dijadikan buku?
Sah-sah saja penulis langsung menerbitkan KTI-nya menjadi model seperti buku namun perlu diingat jika menghendaki buku ber-ISBN maka harus berpikir lebih mendalam karena jelas akan tertolak.
Jadi perlu dipahami diawal bahwa : Meng-ISBN-kan KTI tidak sama dengan mengkonversi KTI menjadi buku ber-ISBN
Diawal kegiatan menulis ini dulu saya sempat juga membeli model laporan KTI yang di-ISBN-kan dari salah satu peserta yang isinya ternyata hanya meng-ISBN-kan laporan KTI. Dulu memperoleh ISBN masih mudah namun sekarang sangat selektif sekali
Itulah materi yang disampaikan, selanjutnya sesi pertanyaan:
Pertanyaan Penulis terus terang masih bingung mengenai QRCBN lebih rincinya bagaimana?
Dan dijawab dengan jelas oleh Bapak Narsum:
Wa'alaikumsalam Pak Agus. Fungsi dari QRCBN, pada dasarnya sama dengan ISBN yaitu, untuk memberikan identifikasi kepada sebuah yang diterbitkan. Buku ber-QRCBN biasanya ditandai dengan adanya QR Code dibagian belakang buku.
QRCBN juga diakui dalam penerbitan buku hanya saja levelnya tidak sama dengan ISBN. ISBN lebih diakui dan merupakan kode buku resmi Internasional, sehingga tidak semua buku mendapat ISBN. Jadi QRCBN menjadi opsi bagi penulis yang tidak bukunya dapat memperoleh ISBN
Begitu Pak Agus jawaban saya. Terlebih Perpusnas sudah tidak menerbitkan ISBN untuk buku-buku hasil penelitian.
Jelas sudah semuanya, jadi kesimpulannya QRCBN levelnya lebih rendah dari ISBN. Terima kasih Penulis ucapkan kepada Narasumber, Moderator dan semua TSO.
Sekian semoga bisa jadi bahan rujukan.








Komentar
Posting Komentar