Ketahanan Pangan ala Kampung: Nanas & Domba di Subang Utara

 

Foto Tugu Nanas Jalancagak-Subang (Sumber: Dokumen Pribadi)

Membuka Tabir Subang Utara

Selamat datang di Subang Utara, sebuah kawasan perbukitan di Jawa Barat yang memiliki cara sederhana tapi jitu menjaga ketahanan pangan lokal. Di antara lahan nanas dan kandang domba rakyat, tersimpan kisah penuh kerja keras dan inovasi tradisional.


Sisi Positif Nanas

Di pinggir jalan desa, tumpukan nanas kuning keemasan menjadi saksi bisu perjuangan petani lokal. Ada dua skala produksi di sini:

  1. Kebun besar: Buahnya dikirim ke industri—jadi nanas kalengan, sirup, atau sari buah.

  2. Kebun rakyat: Lahan kecil, dipetik dengan tenaga keluarga, dijajakan langsung di pasar atau pinggir jalan.

Tapi yang paling menarik adalah limbah nanas—kulit dan mahkotanya tidak jadi sampah. Justru dimanfaatkan sebagai pakan tambahan domba! Serat kasar dan rasa manisnya membuat pencernaan ternak lebih sehat. Di hampir setiap desa, muncullah sinergi antara petani dan peternak tanpa kampanye resmi—cuma gotong-royong yang mengalir alami.


Domba dan Kesederhanaan Peternakan

Usaha beternak di Subang Utara sebagian besar skala kecil—sekali panen hanya belasan ekor. Kandang sederhana berdiri di pinggir kebun, tepatnya dekat tanaman singkong, jagung muda, dan rumput. Begadang masih menjadi biasa: memberi pakan pada pagi dan sore.

Pemberian pakan pun sudah cerdas: rumput lapang dicampur dengan kulit nanas, bahkan dedak atau daun singkong. Saat musim panen nanas, stok pakan alami cukup sampai beberapa hari berikutnya. Modal kecil, hasil maksimal.


Video: Suara dan Aroma Desa

Artikel ini terasa kurang lengkap tanpa merasakan langsung suasana kandang domba dan gemahnya hamparan nanas. Nah, itulah keunggulan video pendek ini—audio dan visualnya membuat Anda seolah hadir di sana:

"Kalau mau merasakan langsung suasana kandang domba dan aroma nanas segar yang saya ceritakan, tonton videonya. Sensasinya jauh beda dibanding hanya membaca."


Nilai Tambah dari Skala Kecil

Skala usaha mungkin mungil—hanya belasan ekor domba dan kebun nanas seluas gang desa. Tapi nilai manfaatnya besar:

  • Ekonomi keluarga: Domba jadi tabungan cair—jual saat butuh dana mendesak.

  • Efisiensi pakan & limbah: Tidak membeli pakan pabrikan; limbah nanas jadi sumber nutrisi.

  • Ketahanan pangan lokal: Keluarga punya akses protein dan buah bergizi dari pekarangan.

Lebih dari itu, yang diperoleh bukan hanya konsumsi pangan—melainkan ketahanan bersama, rasa solidaritas, dan ilmu turun-temurun yang masih terjaga.


Ke Depan: Apa yang Bisa Ditingkatkan?

  1. Peningkatan kualitas pakan: Kulit nanas bisa difermentasi, dikombinasi dedak/molasses.

  2. Bantuan akses pasar: Domba bisa dipasarkan musiman lewat koperasi desa.

  3. Wisata edukasi lokal: “Agrowisata nanas–domba” sederhana bisa jadi daya tarik desa berkembang.


Kesimpulan

Subang Utara mungkin belum pusat industri pangan, tapi kekuatannya ada pada kesederhanaan yang berkelanjutan. Nanas dijual, limbahnya itu jadi pakan, lalu ternak domba tumbuh sehat. Semua terjadi dari gotong-royong lokal, bukan regulasi atau teknologi canggih.

Selamat menonton—semoga suasana Subang membangkitkan semangat kita untuk terus menjaga dan mengelola PETANI dan PETERNAK lokal secara harmonis.



Komentar

Postingan Populer